KHILAFAH KONSTITUSIONAL DALAM PEMIKIRAN POLITIK ISLAM RASYID RIDHA

SUMPER MULIA HARAHAP

Abstract


Abstrak

Rasyîd Ridhâ menyatakan bahwa terbentuknya pemerintahan khilâfah pada zaman sekarang ini adalah suatu keniscayaan. Terlepas dari sikap pesimistis yang diperlihatkan sebagian kalangan pemikir Islam, bahwa keinginan tersebut susah dicapai, Rasyîd Ridhâ ketika itu memiliki keyakinan bahwa keinginan tersebut dapat dicapai. Untuk mencapai terbentuknya pemerintahan khilâfah, maka para pemimpin harus berupaya untuk tidak selalu taklid buta terhadap adopsi undang-undang yang berasal dari Barat. Dalam pandangan Rasyîd Ridhâ, untuk mencapai suatu pemerintahan Islam yang benar, perhatian umat Islam harus tertuju kepada pembentukan supremasi imamah dengan sistem pemerintahan khilâfah, dengan menghidupkan kembali sistem syûrâ dan kekuatan lembaga ahl al-hall wa al-`aqd dengan segala kualifikasinya. Dengan cara inilah, menurut Rasyîd Ridhâ akan terwujud sistem keadilan, persamaan (al-musâwah), dan memelihara kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan, bahkan angka kemiskinan akan teratasi dan patologi sosial akan  teratasi.

 

Abstract

Rashid Rida states that the establishment of the caliphate ruling in this day and age is a necessity. Regardless of the pessimistic attitude shown by most among Islamic thinkers, that desire is difficult to achieve, and Rashid Rida has confidence that these desires can be achieved. To achieve the establishment of the caliphate ruling, then the leaders should strive not to always blind imitation of the adoption of legislation that comes from the West. In the point of view of Rashid Rida, to achieve a true Islamic government, attention should be drawn to the Muslim supremacy formation of Imamat with the caliphate ruling system, to revive the shura system and the power of institutions ahl al-hall wa al-`aqd with all the qualifications. In this way, according to Rashid Rida will manifest justice system, equation (al-Musawah), and maintain the benefit of Muslims as a whole, even poverty will be resolved and social pathology will be resolved.


Full Text:

PDF

References


`Abd al-Rahmân Muhammad Ibn Khaldûn, Muqaddimat Ibn Khaldûn, Jilid I, Beirut: Dâr al-Fikr, 1981.

Al-Asymâwî, Muhammad Sa`îd, Al-Khilâfah al-Islâmiyyah, Kairo: Sînâ L al-Nasyr, 1992.

Black, Antony, Pemikiran Politik Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, diterjemahkan dari The History of Islamic Political Thought: From the Prophet to the Present, Alih Bahasa Abdullah Ali dan Mariana Ariestyawati, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006.

Hamid Enayat, Modern Isamic Political Thought, Texas: Austin,1982.

Ibn Manzhûr, Lisân al-Arab, Jilid IX, Beirut: Dâr al-Shâdir, 1968.

M. Din Syamsuddin, Islâm dan Politik Era Orde Baru, Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 2000.

Ma’luf, Louis. Al-Munjid fi al-Lughât wa al-A’lâm, Beirut: Dâr al-Masyriq, 1973.

Maryam Jameelah, Islam in The Theory and Practice, New Delhi: Taj Company, 1983.

Al-Mâwardî, Al-Ahkâm al-Sulthâniyah, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Mohammad E. Hasim, Kamus Istilah Islam, Jakarta: Penerbit Pustaka, 1987.

Muhammad Rasyîd Ridhâ, Al-Khilâfah aw al-Imâmah al-`Uzhmâ, Kairo: Mathba’at al-Manâr, 1341 H.

----------, Al-Wahy al-Muhammadi, Mesir: Mathba`at al-Qâhirah, 1960.

Nashr Hâmid Abû Zaid, Al-Khilâfah wa Sulthah al-Ummah, Kairo: Dâr al-Nahr, 1995.

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

al-Nawwâr, Shalâh al-Dîn Muhammad, Nazhariyyah al-Khilâfah aw al-Imâmah wa Tathawwuruhâ al-Siyâsiy wa al-Dîniy, Kairo: Mansya’at al-Ma`ârif, 1996.

Pulungan, J. Suyuthi, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: Rajawali Press, 2002.

Al-Syahrastânî, Abdul Fath Muhammad Abd al-Karîm, al-Milal wa al-Nihal, Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman