Islam And Local Tradition: A Social Capital To Strengthening Urban Development In Kampung Kota Of Yogyakarta

UI Ardaninggar Luhtitianti

Abstract


ملحص

وجود القرية في المدينة بمحافظة جوغجاكرتا لا يخلو من تأثير القصر، ولذلك، أكثر الخصائص الموجودة من مجتمعها يتمسكو قويا على إعتقاد محلي على الشكل الرئيسي القيمة والقنون المشتقة من ثقافة جوى. من ناحية أخرى، نجد في نصوص كثيرة أن  نشرالإسلام وتنميته  بمحافظة جوغجاكرتا لا يخلو من تأثير القصر أن طريق الدعوة التي يقوم بها الشيخ الحاج أحمد دحلان. وهتان طائفتان مجتمع المسلم واهل إعتقاد محلي يعتبران طائفتان متعارضتان . السؤال الذي يطرح من هذه المشكلة هو: هل تستطيع هتان طائفتان المتعارضتان تتعاملان معا في بيئة واحدة ؟ كيف تصنعان علاقتة حارة مع وجود إختلاف كثير فيما بينهم ؟ المقصود من هذه الكتابة على ضوء المعاملة الرموزية والتركبية الوظفية هو تصوير إجراء المعاملة المباشرة وإصدار نظام المجتمع المنظم وعلاقة حارة. التوسط والتسامح من عدة فعالية المجتمع التي تظهر من ذلك إجراء المعاملة المباشرة. من حيث سوسيولوجي الأقسام السابقة  تعد من رأس المال الإجتمع هو أساس تنمية الإقتصاد لكل طائفة كما درسناها كثيرا في ضوء الإستفادة.  بل أكثر من ذلك هو وسيلة لإحضار المقاومة الإجتماعية .

مفاتح الكلمة: الإسلام، إعتقد محلي، رأس المال الإجتمع ، القرية في المدينة.

Abstrak

Keberadaan kampung kota di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari pengaruh keraton, sehingga karakteristik masyarakatnya yang dominan adalah mereka masih memegang kuat kepercayaan lokal utamanya nilai dan norma yang bersumber dari budaya Jawa. Di sisi lain, banyak literatur yang menyebutkan bahwa pertumbuhan Islam di Yogyakarta juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh keraton melalui peran dakwah KH Ahmad Dahlan. Kedua kelompok ini, yakni Islam dan tradisi lokal seringkali dianggap sebagai dua kutub yang saling berlawanan. Pertanyaan yang sering muncul adalah dapatkah dua kelompok yang berbeda ini berelasi bersama dalam satu komunitas? Bagaimana mereka dapat membangun suatu hubungan yang harmonis dalam perbedaan identitas? Melalui perspektif interaksionisme simbolik dan struktural fungsional artikel ini bermaksud untuk mendeskripsikan bagaimana proses interaksi berlangsung dan memunculkan system sosial yang tertib dan harmonis. Keterbukaan, toleransi, saling mengakui, adalah beberapa tindakan sosial yang muncul dari proses interaksi tersebut. Komponen-komponen ini secara sosiologis dapat dikategorisasikan sebagai bagian dari modal sosial, suatu modal yang tidak hanya dapat menjadi basis pengembangan ekonomi komunitas seperti yang banyak dipelajari dalam perspektif pemberdayaan, namun lebih dari itu dapat menjadi sarana untuk mewujudkan ketahanan sosial.



Keywords


Islam; tradisi lokal; modal sosial; kampung kota

Full Text:

PDF

References


Adaby Darban, Ahmad, 2000. Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah. Yogyakarta: Terawang

Asrofie, M. Yusron, 1983. Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Kepemimpinannya. Yogyakarta: Yogyakarta Offset

Bourdieu, Pierre. 1983. “The Forms of Capital”, dalam J. Richardson, ed. Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. Westpost, CT: Greenwood Press

Burhani, Ahmad Najib. 2010. Muhammadiyah Jawa. Jakarta Selatan: Al Wasat Publising House

Coleman, James S. 1988. Social Capital in the Creation of Human Capital. American Journal of Sociology 94: S95-S120

Fukuyama, Francis. 1995. Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. New York: The Free Press

Gunawan, Ryadi & Darto Harnoko. 1993. Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI Yogyakarta Periode Awal Abad Duapuluhan. Jakarta: Cv. Manggala Bhakti, hal. 19

Hanifan, L. J. 1916. “The Rural School Community Center”. Analys of The American Academy of Political and Social Science.

Khudori, Darwis. 2002. Menuju Kampung Pemerdekaan: Membangun Masyarakat Sipil dari Akar-Akarnya Belajar dari Romo Mangun di Pinggir Kali Code. Yogyakarta: Yayasan Pondok Rakyat

Mark R. Woodward. 1996. Toward a New Paradigm: Recent Developments in Indonesian Islamic Thought. Arizona: Arizona State University

Muller, 1992. Adam Smith and His Time and Ours, Terjemahan Ruslani. Yogyakarta: CV. Qalam

Mulder, Niels. 2001. Mistisisme Jawa. Yogyakarta: LKIS

Nakamura, Mitsao. 1993. The Crescent Arises over the Banyan Tree. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Partokusumo, Karkono Kamajaya. 1995. Kebudayaan Jawa Perpaduannya dengan Islam. Yogyakarta: Aditiya Media

Putnam, Robert & Robert Leonardi & Rafaella Nanetti. 1993. Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy. Princeton, N.J: Princeton University Press

Ricklefs, M.C. “Culture, Ethnicity, and Religion as Process: Inter-Culturality as the Key to the Future” dalam Kultur: The Indonesian Journal for Muslim Cultures, Vol. I, No. I, 2000.

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media,

Suyanto. 1990. Pandangan Hidup Jawa. Semarang: Dahana Prize

Sullivan, John. 1986. Kampung and State: The Role of Government in the Development of Urban Community in Yogyakarta. Cornell University Press; Southeast Asia Program Publication at Cornell University. No. 14 April 1986

Usman, Sunyoto, 2004. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Koentjaraningrat, 1995. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Jambatan




DOI: https://doi.org/10.24952/fitrah.v5i2.1871

Copyright (c) 2019 FITRAH:Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


Free counters!